Bola Panas BLT, Kadesku Sayang Kadesku Malang

Globalindonews.com-Minggu ini Bantuan Langsung Tunai (BLT) menjadi topik yang trendi di tengah masyarakat, mengalahkan hingar bingar lonjakan jumlah pasien yang semakin meningkat terpapar oleh covid19, persoalan sunnah menjadi wajib dan perkara wajib sudah dinomor duakan, konsentrasi mayoritas warga fokus pada satu masalah, BLT…

Sudah dapat di duga jauh hari bahwa pada akhirnya BLT akan menjadi wadah kekisruhan, apapun program yang sifatnya mendadak tentu tidak memiliki manajemen konflik yang mumpuni, akan banyak pertanyaan tak memiliki jawaban…

BLT yang diluncurkan pemerintah pusat dalam rangka mengendalikan daya beli masyarakat akibat invasi covid18 seperti melempar bola panas ke daerah, bagaimana tidak program ini alpa menyertakan persyaratan yang tegas dan diperparah ketersediaan Anggaran Desa yang dipatok MAKSIMAL menggunakan ADD hanya 35%, mari kita tarik akar persoalannya agar Kepala Desa dan aparatnya tidak menjadi sansak bullyan dengan ungkapan khas “keluarganya ji na pattuju (hanya keluarganya dia perhatikan)”….

Baca juga  Bukit Maddo"negeri diatas awan" Barru

Persoalan utamanya menurut hemat saya adalah persyaratan yang multitafsir, salah satu syarat “warga miskin terdampak covid” dibenturkan dengan ketersediaan dana yang hanya “maksimal menggunakan 35% bagi desa yang memiliki ADD diatas 1 milyar dan 30% bagi desa yang memiliki ADD Di bawah 1 miliar”, maka datanglah keruwetan itu, vonis tak adil, tak merata dan salah sasaran pun menjadi nyanyian pengantar tidur bagi Kepala Desa dan aparatnya…

Ambil contoh satu desa, sesuai dengan syarat maka ADD hanya bisa mencover 167 KK sebagai penerima BLT, tetapi yang merasa terdampak mencapai 400 KK artinya ada 233 harapan tak sampai…

Itulah akar persoalan sesungguhnya bahwa dana yang tersedia tidak balance dengan jumlah yang berharap menerima, soal ketidakadilan kades dan aparatnya itu menjadi perdebatan isu, penulis sendiri tidak terlalu yakin bahwa ketidakadilannya masif, artinya kalau ada keluarganya dia “pattuju” memang karena memenuhi persyaratan, malah sebenarnya kita bisa menghitung ada berapa KELUARGA KADES DAN APARATNYA yang kecewa karena tidak terakomodir…

Baca juga 

Apa jalan keluar dari semua ini? Solusinya adalah empati, kepedulian belum tentu mencukupkan tetapi peduli akan melahirkan harapan baru, bagi yang mampu awasi kiri-kanan muka-belakang tetangga kita yang kurang beruntung, pastikan kenyangnya sama dengan rasa kenyang kita, covid19 sedang memberi mata kuliah “kemanusiaan” siapa yang bersungguh-sungguh akan mengambil manfaat paling besar…

Bagi warga mampu yang terdata sebagai penerima BLT/BST (salah sasaran), silahkan datang menerima itu sah menurut hukum tetapi setelah menerimanya buka mata hati disana ada yang bernama NURANI, siapa tahu dia memanggilmu menuntun kaki menyerahkan kepada tetangga atau warga yang lebih membutuhkan, atau setelah menerima segera ke toko sembako beli beberapa paket dan berikan pada warga yang sangat perlu untuk sekedar mengisi perut keroncongannya…

Baca juga  Guru mengaji kembali menerima insentif dari pemkab Barru

Kalau ada yang harus di kritisi dari program ini, adalah mengapa harus UANG, seharusnya berupa sembako saja mungkin yang menerima manfaatnya akan lebih banyak, dengan uang bisa menjadikan tidak tepat sasaran semoga tidak ada penerima yang menggunakannya beli ROKOK atau lebih parah habis di MEJA JUDI,
In syaa Allah semoga tidak…

23 Ramadhan…

ARIF PABISEANG